Biografi Chairil Anwar (Tokoh Sastra Indonesia)

Biografi Chairil Anwar (Tokoh Sastra Indonesia)

KHOLIDINTOK - Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh. Apa kabar sahabat semua? Mudah-mudahan selalu dalam keadaan sehat wal 'afiat, ya. Amiin.. Pada kesempatan kali ini, Kholidin akan memposting Biografi dari Tokoh Sastra Indonesia yang bernama Chairil Anwar.
Chairil Anwar lahir di Medan, Sumatra Utara, pada tanggal 22 Juli 1922. Ayahnya bernama Tulus, seorang bupati di Rengat. Chairil Anwar menjalani pendidikan dasar dan menengah di HIS dan MULO Medan. Sekolah tamat sekolah, Chairil pindah ke Jakarta mengikuti ibunya yang baru saja bercerai dari sang ayah.
Saat itu Indonesia berada di bawah kekuasaan Jepang. Chairil menjalani hidup yang sangat keras bersama ibunya di Jakarta. Ia terpaksa berhenti sekolah dan belajar sendiri di rumah. Ketika beranjak dewasa, Chairil Anwar tidak pernah mempunyai pekerjaan tetap.
Pada tahun 1948 Chairil Anwar bekerja sebagai redaktur majalah Gema Suasana. Namun, ia tidak betah. Pekerjaan itu lalu ditinggalkannya. Chairil Anwar sempat mengelola rubrik kebudayaan "Gelanggang" di mingguan Siasat bersama dengan Ida Nasution dan Asrul Sani.
Pada tahun 1946, Chairil Anwar menikahi seorang gadis bernama Hapsah. Mereka dikaruniai seorang anak perempuan. Namun sayang, pernikahan tersebut tidak bertahan lama. Keduanya pun bercerai.
Chairil Anwar adalah penyair yang sangat revolusioner. Melalui karya-karyanya, ia dianggap sebagai pelopor Angkatan '45. Puisi-puisi Chairil antara lain diterbitkan dalam antologi yang berjudul Tiga Menguak Takdir bersama puisi karya Asrul Sani dan Rivai Apin.
Dalam dunia sastra Indonesia, Chairil Anwar di kenal sebagai si Binatang Jalang. Julukan tersebut diambil dari salah satu kalimat dalam puisinya yang berjudul "Aku. Sebagai pelopor angkatan '45, Chairil Anwar berhasil menciptakan tren pemakaian kata baru dalam berpuisi. Tren tersebut adalah pemakaian kata yang terkesan lugas, solid, dan kuat. Chairil Anwar bersama Asrul Sani dan Rivai Apin memelopori puisi modern Indonesia.
Chairil adalah sosok penyair yang selalu berusaha menginspirasi dan mengapresiasi upaya manusia dalam meraih kemerdekaan, termasuk perjuangan bangsa Indonesia untuk melepaskan diri dari penjajahan. Hal itu tercermin dalam puisinya yang berjudul "Karawang Bekasi". Puisi ini adalah hasil saduran dari puisi "The Young Dead Soldiers" karya Archibald MacLeish (1948). Sementara itu, dalam karyanya yang berjudul "Dipo Negoro", Chairil Anwar berusaha mengajak para pembacanya untuk berjuang. Puisi ini kemudian dikenal sebagai Puisi Perjuangan. Adapun dalam puisi "Aku" Chairil Anwar mencoba mengapresiasi dorongan kata hati rakyat Indonesia untuk bebas merdeka lewat sebaris kata "Aku ini binatang jalang".
Semasa hidupnya, Chairil Anwar adalah sastrawan yang sangat produktif. Disepanjang usia kepengarangannya (1942-1949), ia telah menghasilkan 94 karya yang terdiri atas 70 puisi asli, 4 puisi saduran, 10 puisi terjemahan, 6 prosa asli, dan 4 prosa terjemahan.
Pada masa awal kepengarangannya Chairil Anwar tampil sebagai pribadi yang penuh semangat dan vitalitas. Hal tersebut terbaca jelas dalam puisi "Aku" dan beberapa puisi yang tergabung dalam antologi Deru Campur Debu. Selebihnya Chairil Anwar sering hadir dengan gaya ekspresionistik. Keaslian pengucapan Chairil Anwar sebagai seorang ekspresionis sangat terasa dalam beberapa puisi hasil terjemahannya.
Chairil Anwar meninggal pada tanggal 28 April 1949 karena penyakit TBC. Ia dimakamkan di Taman Pemakaman Umum Karet Bivak, Jakarta. Hari meninggalnya diperingati sebagai hari Chairil Anwar.
Dan berikut ini adalah beberapa karya Chairil Anwar:
Sumber: Materi Bahasa Indonesia kelas XI MA
Demikianlah postingan kali ini, yang berjudul Biografi DR. K.H.A. Hasyim Muzadi. Semoga bermanfaat buat sobat semuanya. Akhir kata, Wabillahi Taufiq Wal Hidayah, Wassalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Komentar dan saran sangat kami butuhkan untuk meningkat kualitas blog kami

*Budayakan anti spam

Emoticon